Oleh : Agus Suroyo
Tim Diksuspala dan Penjamin Mutu Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah
Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang perubahan pendekatan dalam promosi sekolah. Strategi promosi lama menonjolkan gedung, laboratorium, seragam, atau kolam renang. Strategi promosi baru lebih menonjolkan apa yang dirasakan seperti kehangatan guru, perubahan sikap murid, dan kegiatan belajar mengajar yang unik. Fasilitas tidak dihapus akan tetapi ditempatkan pada posisi yang tepat yaitu mendukung bukan menentukan. Lalu pertanyaannya, mengapa orang tua memilih sekolah tertentu? Nah ini yang perlu kita pelajari.
Ryan Oktapratama dengan mengutip teori Tybout dan Calkins ada 3 motif orang tua memilih sekolah yaitu coherence, agency, dan communion. Coherence adalah kebutuhan akan kejelasan identitas. Orang tua memilih sekolah terkadang karena faktor identitas baik yang berorientasi ke dalam (inward) atau berorientasi ke luar (outward). Mereka memilih sekolah yang sejalan dengan nilai hidupnya. Orang Muhammadiyah yang ideologis umumnya memilih anaknya di sekolahkan di sekolah Muhammadiyah. Ini adalah contoh pilihan sekolah yang berdasarkan motif coherence yang berorientasi ke dalam (inward). Motif pemilihan sekolah coherence biasanya orang tua memilih sekolah/madrasah karena status sosial. Dengan demikian tidak jarang orang tua memilih sekolah mahal, sekolah internasional sebagai upaya menunjukkan citra kaya, modern, dan sukses.
Motif kedua adalah agency. Orang tua memilih sekolah biasanya juga didorong karena aspirasi orang tua terhadap masa depan anaknya. Orang tua memilih sekolah karena kebutuhan kompetensi dan prestasi anak. Sebagai contoh orang tua memasukkan anaknya ke sekolah boarding karena berharap anaknya memiliki karakter dan pengetahuan agama yang baik. Secara outward pemilihan sekolah boarding juga menjadi penegasan citra orang tua yang komitmen terhadap pendidikan agama yang utama.
Motif ketiga adalah communion. Orang tua memasukkan sekolah anaknya karena kebutuhan untuk diterima dan terhubung secara sosial. Orang tua mencari lingkungan hangat dan supportif misal sekolah yang menumbuhkan kolabotasi, empati, dan kepedulian sosial. Adapula orang tua yang menyekolahkan anak karena adanya wadah kebanggaan komunitas. Orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal atau sekolah internasional umumnya juga karena orang tua memiliki motif untuk mendapatkan relasi sosial yang selevel dan juga memiliki dampak positif bagi bisnis mereka.
Dengan memahami motif ini, maka sekolah dapat menyusun strategi promosi yang lebih manusiawi, bukan menjual tetapi menggugah. Sekolah tidak hanya menjawab pertanyaan, “apa yang kami tawarkan?”, tetapi juga, “apa yang anda rasakan ketika menjadi bagian dari kami?”. Lalu gimana dengan sekolah anda? Selamat mencoba.
Perjalanan keretan Sancaka Surabaya-Jogja, 11 Januari 2026.

